Manado, Kota Yang Berkembang Dari Benteng dan Pelabuhan

Sebelum kedatangan bangsa Eropa (Portugis, Spanyol dan Belanda), Manado yang saat itu bernama Wenang hanyalah kampung kecil yang merupakan bagian dari wilayah Minahasa.

Sebelum tahun 1926, luasnya  hanya 2 km persegi, kemudian berdasarkan besluit Gubernur Jenderal Hindia Belanda Nomor 5 tanggal 19 Oktober 1926 diperbesar menjadi 5 kali lipat (10,60 km persegi).

Luas wilayah 10,60 km persegi bertahan sampai pendudukan Jepang dan masa revolusi, lalu diperluas menjadi 23,748 km persegi, kemudian pada tahun 1988 diperluas lagi menjadi 157,26 km persegi (diluar luas lahan reklamasi sebesar 83 ha).

Perkembangan Manado sangat nyata ketika pelabuhan Wenang (kini pelabuhan Manado) dan benteng Amsterdam dibangun. Keberadaan benteng yang saat itu tidak hanya sebagai pertahanan, tetapi juga difungsikan sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan  telah mendorong dan menarik para imigran berdatangan menyesaki Manado.

Etnis Minahasa yang sebelum kedatangan bangsa Eropa memilih tinggal di pedalaman, karena menghindari ekspansi kerajaan-kerajaan yang mengelilingi jazirah Minahasa, dan menghindari perompak/bajak laut yang umumnya berasal dari Mindanao-Filipina, namun setelah berdirinya benteng yang menjadi pusat pemerintahan dan sekaligus perdagangan, mereka mulai berani turun gunung memenuhi wilayah Manado, sehingga Manado yang sebelumnya sunyi sepi menjadi padat dan ramai.

Selain keberadaan benteng yang telah menciptakan iklim berusaha, keberadan pelabuhan Manado juga ikut meningkatkan arus penduduk yang masuk ke Manado. Umumnya mereka yang datang adalah para pedagang yang berasal dari Cina, Ternate,  Gorontalo, Sangihe, Arab, Bugis-Makassar dan dari berbagai daerah lainnya.

Terbukanya dunia usaha dengan berbagai alternatifnya ikut mendorong perkembangan lokasi pemukiman di kota Manado. Lokasi yang sebelumnya tak layak dihuni dan terlarang, karena berada di tebing dan di pesisir pantai yang tergenang air laut saat pasang, dan rawa yang berbahaya berubah menjadi lokasi pemukiman.

Bangunan darurat kaum urbanis merambah kota Manado. Areal rendah yang selalu becek dan rawa yang tergenang air ditimbun. Gubuk-gubuk merambah sampai perbukitan berbahaya di pinggiran kota.

Daerah pantai sebelah selatan muara DAS Tondano seperti Calaca, Pondol, Titiwungen, Sario, Bahu dan perbukitan seperti lokasi perkebunan Malalayang menjadi pilihan kaum urbanis sebagai lokasi pemukiman. Sementara di sebelah utara DAS Tondano mulai dari pantai Sindulang, Bitung-Karangria, Maasing, Tumumpa dan Molas menjadi pilihan kaum urbanis sebagai lokasi pemukiman.

Dari tahun ke tahun, jumlah penduduk dan pemukiman terus bertambah. Penduduk Manado termasuk Minahasa yang semula hanya sekitar 182.804 jiwa pada tahun 1900 bertambah menjadi 307.764 jiwa  pada tahun 1930 (Fendy E.W. Parengkuan, et al. 1986).

Pada masa pemerintah kolonial Belanda, pembangunan di kota Manado terpola dan tertata dengan baik, misalnya adanya kompleks-kompleks seperti benteng, lokasi perdagangan, pemukiman berdasarkan etnis, dan lain-lain; tapi setelah itu, pola pemukiman menjadi terpencar dan tidak tertata dengan baik. Salah satu penyebabnya karena topografi kota Manado yang berbukit dan berbahaya, yang walaupun daerah tersebut terlarang ditempati, namun dimanfaatkan oleh penduduk untuk membangun pemukiman slum yang merusak wajah dan keindahan kota Manado.

Manado yang sebelumnya kecil, sunyi dan hanya terdiri dari kampung Wenang (kini Manado) berkembang menjadi 5 (lima) kampung di sekitar benteng, yaitu: Manado, Ares, Klabat Bawah, Bantik dan Negeri Buhu (Baru), yang kemudian lokasinya dipindahkan dalam rangka perluasan pembangunan benteng.

Dalam perkembangan selanjutnya, dari 5 (lima) kampung berkembang menjadi 12 kampung, yaitu: kampung Belanda, Cina, Arab, Pondol, Wenang, Tikala, Mahakeret, Wawonasa, Singkil, Titiwungen, Sindulang dan Tuminting.

Juga terdapat 7 (tujuh) kampung pakasaan, yang ada sejak masa Belanda hingga saat ini, yaitu: kampung Tondano, kampung Remboken, kampung Kakas, kampung Tomohon, kampung Langowan, kampung Tombariri, dan kampung Sonder.

Kini, wilayah Manado setelah diperluas pada tahun 1989 berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1988 Tentang Perubahan Batas Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Manado dan Kabupaten Daerah Tingkat II Minahasa bertambah menjadi 11 kecamatan, 87 kelurahan dan 504 lingkungan. SolMont***

2017-12-13T07:18:13+00:00 December 5th, 2017|Mengenal Manado|