Mengenal 8 Kampung Pakasaan Minahasa di Manado

Pada jaman pemerintahan kolonial Belanda dan sebelum kemerdekaan terdapat sejumlah pemukiman yang diberi nama berdasarkan etnis dan atau sub etnis.

Pembagian kampung tersebut bukan karena penduduknya mengeksklusifkan diri atau tidak mau berbaur dengan masyarakat lainnya, tapi karena berdasarkan peraturan wijkenstensel, yang isinya agar setiap etnis harus menempati kampung etnisnya masing-masing. Juga berdasarkan peraturan passenstensel, yang mengatakan bahwa seseorang harus menunjukkan surat jalan jika hendak keluar dari lingkungannya.

Peraturan tersebut dibuat oleh pemerintah kolonial Belanda agar memudahkan dalam melakukan pengawasan, mengontrol populasi penduduk, dan meminimalisir terjadinya tindak kriminalitas. Misalnya jika terjadi kerusuhan atau perkelahian, akan memudahkan intel pemerintah kolonial Belanda mencari tersangka atau pelakunya.

Di kota Manado pada jaman pemerintah kolonial Belanda terdapat 8 kampung yang diberi nama berdasarkan sub etnis Minahasa. Pembentukannya bukan dilakukan oleh pemerintah Belanda, sebagaimana kampung Cina dan Arab, tetapi dibentuk berdasarkan kesatuan adat Minahasa.

Keberadaan 8 kampung tersebut sangat unik. Unik karena belakangan ada penduduknya yang tidak tahu nama kampungnya, juga unik karena penduduknya sama sekali bukan lagi sub etis yang namanya digunakan sebagai nama kampung.

Walaupun sudah ada sejak jaman Belanda, namun keberadaan 8 kampung pakasaan, yang penduduknya berasal dari sub etnis Minahasa tidak mengalami perluasan wilayah. Keadaannya masih tetap seperti dulu. Bahkan salah satu kampung hanya tinggal namanya saja, karena penduduk aslinya sudah tidak ada.

Areal 8 kampung pakasaan Minahasa di Manado tidak terlalu luas. Semua kampung hanya menempati satu ruas jalan dan atau lorong. Rumah-rumah penduduk dibangun di samping kiri dan kanan sepanjang jalan atau lorong. Empat kampung dari ujung ke ujung bisa ditembusi oleh kendaraan roda empat. Dua kampung hanya sebagian ruas jalannya dapat dilalui oleh kendaraan, jalan sisanya hanya bisa dilewati dengan jalan kaki. Akses jalan dua kampung lainnya hanya bisa dilintasi dengan jalan kaki.

Lokasi pemukiman yang dinamai berdasarkan sub etnis Minahasa tersebut adalah kampung Tombariri, Kakas, Remboken,  Tomohon, Langowan, Tondano, Kawangkoan dan kampung Sonder.

Alex Wowor, umur 77 tahun, warga masyarakat kampung Tombariri, jalan Sam Ratulangi 11, Wenang Selatan-kecamatan Sario, mengatakan bahwa dulu, yaitu pada jaman Belanda termasuk Manado adalah wilayah pakasaan Minahasa.

Arti pakasaan menurut bahasa Tombulu-Minahasa adalah satukan semua, maksudnya satukan semua wilayah sub etnis di Minahasa. Frans S. Watuseke mengartikan pakasaan sebagai kesatuan distrik adat.

Kesatuan distrik adat yang dimaksud oleh Frans S. Watuseke diperjelas oleh Prof. George Alexander Wilken, seorang ahli antropologi berkebangsaan Belanda yang terkenal dengan teori Evolusi Kebudayaan di Indonesia. Menurutnya, distrik adat di Minahasa dikenal dengan nama walak.

Dijelaskan oleh George Alexander Wilken bahwa sesuai penyelidikannya setiap walak memiliki wilayah (tanah negara) yang memiliki batas tertentu. Batas tersebut tidak hanya sekedar administrasi, tetapi juga menjadi batas milik walak yang asli.

Arti walak di dalam bahasa Minahasa adalah sebagai wilayah pakasaan, atau negeri, atau daerah. Namun, di dalam kontrak 10 Januari 1679, pemerintah kolonial Hindia Belanda mengartikan walak sebagai dorp (bahasa Belanda), yang artinya desa.

Jadi, yang dimaksud dengan pakasaan oleh Alex Wowor , adalah desa (desa adat) atau kampung yang penduduknya berasal dari sub etnis tertentu di Minahasa. Dijelaskannya bahwa penduduk kampung dalam satu wilayah pakasaan tidak boleh ditempati oleh pakasaan lainnya.

Masih homogenkah penduduk 8 wilayah pakasaan Minahasa di Manado hingga saat ini? Berikut ini adalah penjelasannya secara singkat.

1.Kampung Tombariri. Disebut Tombariri karena mayoritas penduduknya berasal dari Tombariri (Tanahwangko). Tapi kini penduduknya hanya tinggal sekitar 40 persen yang berasal dari Tombariri Minahasa. Sebagian rumah oleh pemiliknya telah dijual ke etnis lain.

Namanya saat ini bukan lagi kampung Tombariri, tetapi Titiwungen Utara lingkungan I, kecamatan Sario. Walaupun namanya telah diubah, namun nama kampung Tombariri tetap familiar bagi warga Manado. Lokasi pemukimannya berada di sepanjang jalan Sam Ratulangi 11, dan berakhir di jalan Piere Tendean atau yang populer dengan nama Boulevard.

Alex Wowor, warga kampung Tombariri Manado, mengatakan bahwa eks Pasar 9 di Titiwungen dibangun oleh 9 distrik yang ada di Tombariri. Karena itu, namanya disebut pasar 9. Para petani dari Tombariri (Tanahwangko) membawa hasil pertanian ke pasar 9 Titiwungen. “Setelah bahan jualan habis, ada di antara para petani kembali ke Tombariri (Tanahwangko), dan yang lainnya menetap di kampung Tombariri Manado,” ujar Wowor.

2.Kampung Kakas. Dinamakan kampung Kakas karena penduduknya berasal dari Kakas. Lokasinya adalah sepanjang jalan Sam Ratulangi 9. Pemukim awalnya adalah para petani dari Kakas yang berjualan di Manado. Mereka datang ke Manado dengan menggunakan roda.(gerobak atau pedati) yang ditarik oleh sapi atau kuda.

Pdt. Billy Johanes, S.Th, umur 53 tahun, warga kampung Kakas mengatakan bahwa lokasi pemukiman yang mereka tempati adalah tanah kalakeran, yang dalam penjelasan Alex Wowor disebut tanah pakasaan.

Kalakeran adalah harta milik kerabat tidak terbagi, kecuali jika semua anggota kerabat yang berhak bersama-sama  menyetujui untuk dibagi. Tanah kalakeran  dapat juga diartikan sebagai tanah milik bersama.

Saat ini penduduk kampung Kakas hanya 30 persen yang berasal sub etnis Kakas, penduduk lainnya adalah orang Borgo, dan etnis lainnya  dari wilayah  nusantara,” kata Pdt. Johanes.

3.Kampung Remboken. Disebut kampung Remboken karena panduduk yang pertama kali menempatinya adalah orang Remboken. Mereka datang ke Manado dengan berbagai profesi, tapi umumnya mereka menurut Boby Lucas adalah pedagang tibo-tibo.

Kini namanya bukan kampung Remboken lagi, tetapi kelurahan Wenang Utara lingkungan 4. Namun warga Manado tetap mengenalnya sebagai kampung Remboken.

Jalan satu-satunya menuju kampung Remboken adalah dari di depan eks bioskop Star, jalan Sarapung. Sepanjang 40 meter jalan masuk ke dalamnya memiliki lebar  sekitar 3 meter, kemudian menyempit dan hanya bisa dilewati dengan jalan kaki hingga tembus di ujung jalan Garuda, dekat pekuburan Borgo.

Boby Lucas, umur 67 tahun, mantan kepala lingkungan, warga masyarakat kelurahan Wenang Utara lingkungan 4 (kampung Remboken), mengatakan bahwa penduduk yang asli kampung Remboken hanya sekitar 30 persen orang Remboken, penduduk lainnya adalah orang Borgo dan beberapa etnis atau sub etnis lainnya.

4.Kampung Tomohon. Disebut kampung Tomohon karena.pada jaman Belanda penduduknya berasal dari sub etnis Tomohon. Lokasinya adalah sepanjang jalan Sam Ratulangi 10.

Nama yang diberikan oleh pemerintah bukan kampung Tomohon, tetapi kelurahan Wenang Selatan lingkungan I, namun nama kampung Tomohon lebih familiar bagi masyarakat kota Manado.

Kini penduduknya tidak lagi didominasi sub etnis Tomohon, tetapi telah berbaur dengan etnis lainnya dari nusantara. “Banyak rumah di sini telah dijual oleh masyarakat, dan telah diubah oleh pembelinya menjadi tempat kos,” kata Ray Welong, warga kampung Tomohon.

5.Kampung Langowan. Dinamakan kampung Langowan karena penduduk yang pertama kali menempatinya adalah orang Langowan. Mereka datang di Manado dengan berbagai tujuan, tapi umumnya adalah para pedagang dari Langowan, yang datang berjualan di Manado. Semula mereka membuat pondok, tapi lama-kelamaan berubah menjadi pemukiman yang dikenal dengan nama kampung Langowan.

Lokasinya agak berbeda dengan 7 kampung pakasaan lainnya, yang berada di lokasi yang rata, sedangkan kampung Langowan terletak di lokasi yang agak berbukit.

Salah satu jalan menuju ke kampung Langowan adalah melewati gang selebar 1 meter lebih, yang terletak antara GMIM Paulus dan toko Fendy Jaya.

Kini namanya bukan lagi kampung Langowan, tetapi kelurahan Wenang Selatan, kecamatan Wenang, namun warga Manado tetap menyebutnya kampung Langowan.

Herry Enggi, umur 64 tahun, warga kampung Langowan-kelurahan Wenang Selatan lingkungan III, mengatakan bahwa penduduk kampung Langowan tidak lagi didominasi oleh orang Langowan, tetapi telah berbaur dengan etnis lainnya seperti orang Manado asal Sangihe. Menurutnya, saat ini  penduduk asli Langowan hanya tinggal sekitar 30 persen.

6.Kampung Tondano. Disebut kampung Tondano karena penduduknya berasal dari Tondano. Mereka datang ke Manado secara berkelompok berdasarkan sub etnis. Mereka datang dengan berbagai tujuan, tapi umumnya mereka berprofesi sebagai pedagang tradisional.

Kampung Tondano dulu dan sekarang memiliki banyak perbedaan. Salah satunya adalah jumlah warga Manado asal Tondano yang mendiaminya hanya tinggal 10 persen. “Sekarang banyak rumah dijual dan telah berubah fungsi menjadi tempat kos,” kata Hendrik Mantik, umur 58 tahun, warga kampung Tondano Manado.

Satu-satunya jalan masuk menuju kampung Tondano adalah dari jalan Samrat 6 di depan Persekolahan Katolik Manado. Jalan masuk ke dalamnya memiliki lebar 3 meter, tapi itu hanya sepanjang 50 meter, selebihnya hanya bisa dilalui oleh motor, dan sisanya hingga tembus jalan Wakeke hanya bisa dilalui dengan jalan kaki.

Kini namanya bukan lagi kampung Tondano, tetapi jalan Sam Ratulangi 6 lingkungan I Wenang Utara, namun warga Manado tetap mengenalnya sebagai kampung Tondano. Sementara masyarakat luar Manado yang indekos tidak begitu familiar dengan nama Kampung Tondano, bahkan ada yang tidak mengenalnya sama sekali. Mereka lebih mengenalnya jalan Sam Ratulangi 6 lingkungan I Wenang Utara.

7.Kampung Kawangkoan. Disebut kampung Kawangkoan karena mayoritas penduduk yang pertama kali menempatinya adalah orang Manado asal Kawangkoan. Mereka datang di Manado dengan berbagai tujuan, tapi umumnya mereka adalah para pedagang tradisional.

“Dulu mereka turun dari gunung (Minahasa) dalam bentuk rombongan, lalu mereka menempati tanah kalakeran ini,” semula mereka hanya membangun gubuk sementara, tapi kemudian berubah menjadi lokasi pemukiman, yang dikenal dengan sebutan kampung Kawangkoan, kata Didi Mailoor, umur 50 tahun dan Treisye Suatan, umur 61 tahun, keduanya warga Manado kampung Kawangkoan.

Jalan Toar I, adalah jalan satu-satunya menuju kampung Kawangkoan, hanya bisa dilintasi dengan jalan kaki hingga tembus jalan Wakeke.

Kini namanya bukan lagi kampung Kawangkoan, tetapi kelurahan Wenang Utara lingkungan I. Walaupun namanya telah diganti, namun nama kampung Kawangkoan lebih populer dan familiar bagi masyarakat Manado.

Kampung Kawangkoan merupakan kampung pakasaan yang penduduknya relatif homogen, karena 90 persen lebih penduduknya masih merupakan warga Manado asal Kawangkoan. Berbeda dengan 6 kampung pakasaan lainnya, yang penduduk sub etnis Minahasanya kurang dari 50 persen.

8.Kampung Sonder. Disebut kampung Sonder karena mayoritas penduduk yang pertama kali menempatinya adalah orang Manado asal Sonder. Kedatangan mereka ke Manado sama dengan 7 kampung pakasaan lainnya, yakni dengan berbagai tujuan, dan pada umumnya adalah para pedagang tradisional.

“Kampung ini tinggal namanya saja Sonder, tapi penduduknya sudah tidak ada orang Sonder. Di sini sudah ada orang Borgo, dan penduduk dari berbagai etnis lainnya,” kata Renny Tamara, umur 52 tahun, warga Manado kampung Sonder.

Jalan masuk ke kampung sonder melaui dua jalur, yaitu dari jalan Garuda tembus sampai jalan Diponegoro. Lebar jalannya sekitar 4 meter dan bisa dilalui oleh mobil.

Kini namanya bukan lagi kampung Sonder, tapi jalan Mahakeret Barat lingkungan 3. Walaupun namanya telah diganti, namun sebutan kampung Sonder lebih populer dan familiar bagi masyarakat Manado.

Adanya kampung etnis maupun kampung pakasaan atau sub etnis Minahasa menunjukkan bahwa kota Manado diwarnai indahnya budaya berbagai etnis yang mmenempatinya.SolMont.

2017-08-02T00:15:30+00:00 July 27th, 2017|Mengenal Manado|