John Lie Pahlawan Nasional Asal Kota Manado

John Lie, adalah nama akrabnya. John Lie Tjeng Tjoan, adalah nama lengkapnya. Jahja Daniel Dharma, adalah nama WNI-nya. Lahir di Kanaka-Manado pada tanggal 9 Maret 1911. Meninggal di Jakarta pada tanggal 27 Agustus 1988. Hasratnya menjadi pelaut begitu kuat. Sejak umur 10 tahun, ia sudah tertarik dunia maritim.

“Nanti suatu waktu saya saya jadi kapten. Suatu waktu akan pimpin kapal seperti ini,” ujarnya saat berada di atas kapal eskader milik angkatan laut Belanda yang berlabuh di pelabuhan Manado pada tahun 1921. Ia dan teman-temannya menaiki kapal tersebut dengan cara berenang, karena tidak memiliki uang senilai 10 sen untuk ongkos masuk ke dalam kapal.

Keinginannya untuk menjadi pelaut dirahasiakannya kepada orang tuanya, karena bila diketahui tak diijinkan. Memasuki usia 17 tahun, ia meninggalkan Manado. Untuk mewujudkan cita-citanya sebagai pelaut, ia bekerja sebagai mualim kapal milik Belanda.

Bulan Februari 1946, setelah kekalahan Jepang akibat pengeboman Hiroshima dan Nagasaki pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945, ia dan teman-temannya sesama pelaut Indonesia yang bekerja di maskapai pelayaran Koninlijk Paketvaart Maatschapij (KPM) milik Belanda pulang ke Indonesia.

Tiga bulan kemudian setelah berada di Indonesia, yaitu pada bulan Mei 1946, ia menemui pimpinan laskar Kesatuan Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) Hans Pandelaki dan Mohede di Cilacap. Berkat pengalamannya, ia diterima sebagai anggota KRIS barisan laut.

Tidak lama bergabung dengan KRIS, atas rekomendasi Alexander Andries Maramis kepada Laksamana M. Pardi di Yogyakarta selaku kepala staf ALRI, John Lie diterima sebagai prajurit Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI).

Cilacap, adalah tempat tugasnya yang pertama dengan pangkat kapten. Di pelabuhan Cilacap, ia berhasil membersihkan ranjau yang ditanam oleh Jepang untuk menghadapi sekutu. Atas jasanya itu, pangkatnya dinaikkan menjadi mayor.

Di kalangan TNI Angkatan Laut, John Lie dianggap sebagai salah satu role model bagi pelaut-pelaut muda tanah air.

Pengalamannya bekerja di kapal KPM membuatnya dipercaya oleh TNI AL sebagai memimpin kapal cepat bernama “The Outlaw”, yang dibeli oleh pemerintah pada bulan September 1947.

Muatan kapal “The Outlaw” bukan penumpang atau sembako, tetapi senjata yang berasal dari luar negeri. Senjata-senjata tersebut dipasok ke pejuang-pejuang di tanah air untuk mengusir penjajah Belanda.

Kisah-kisah pelayaran  “The Outlaw” yang dipimpinnya yang penuh resiko dan taruhan nyawa tak dihiraukannya, itu demi tekadnya agar bangsa Indonesia tidak dikuasai penjajah.

Pada bulan Oktober 1947, kapal “The Outlaw” mengangkut perlengkapan militer yang terdiri dari senjata semiotomatis dan ribuan peluru dari salah satu pulau di selat Johor, Malaysia ke Sumatera. Kapal yang dikemudikannya di tengah malam tanpa penerangan agar tak diketahui oleh Belanda dan Inggris.

Setibanya di labuan Bilik, pesawat Belanda menghadangnya dan meminta agar kapal “The Outlaw”  meninggalkan pelabuhan. Di pesawat tampak dua serdadu Belanda mengarahkan senjata dan menarik pelatuknya. Dalam suasana yang genting itu, John Lie mengatakan kepada Belanda bahwa kapal sedang kandas dan tak bisa bergerak.

Beberapa saat kemudian, keajaiban terjadi, pesawat Belanda itu tiba-tiba terbang tinggi dan meninggalkan pelabuhan. John Lie masuk ke dalam kabin, kemudian berdoa dan bersyukur atas kemurahan dan kasih Tuhan.

Belakangan, diketahui bahwa pesawat Belanda tersebut pergi karena kekurangan bahan bakar.

Dalam pengalaman pelayaran berikutnya, pagi-pagi buta saat kapal “The Outlaw” dari Penang ketika memasuki delta Tamiang, langsung dihadang oleh kapal Belanda. Badan “The Outlaw” ditembaki meriam. Suara peluru berdesing-desing. Suasana sangat mencekam. Pada jarak 3 meter dari tempat John Lie berlindung tiba-tiba terjadi ledakan.

Dalam keadaan kritis tersebut, “The Outlaw” sama sekali tak berdaya. Tapi ajaibnya, tiba-tiba kapal Belanda karam di karang dan tak bisa bergerak lagi. Kondisi itu menjadi kesempatan bagi “The Outlaw” melarikan diri dan bersembunyi di delta Tamiang.

Walaupun lolos dari sergapan armada laut Belanda, namun disergap lagi oleh armada udaranya. Lagi-lagi keajaiban terjadi. Pesawat yang menyergap hanya berputar-putar di atas delta. Pilot dan juru serdadunya yang telah siap dengan senjata tak bisa melihat kapal “The Outlaw” yang saat itu bagian bawahnya sudah porak-poranda.

“Roh Kudus membungkus kami,” ujar John Lie di dalam sebuah memoarnya untuk mengenang peristiwa yang menegangkan itu. Itulah yang membuatnya selalu sukses menembus blokade Belanda.

Setelah dari Aceh, John Lie memutuskan kembali ke Penang dengan kapal “The Outlaw”.  Kecepatan kapal berkurang, karena satu baling-balingnya copot. Pasti sulit melarikan diri jika dikejar kapal laut Belanda. Saat dini hari kapal sudah berada di selat Malaka, tiba-tiba di tengah kegelapan malam melintas sebuah kapal tanker milik Belanda. Nakhodanya langsung menghubungi kapal patroli militer Belanda. Tak lama kemudian, kapal patrol Belanda muncul dan langsung menghadang kapal “The Outlaw”.

Tembakan meriam dan senapan memecah kesunyian laut. Jarak ke Penang masih jauh. John Lie dan awak “The Outlaw” hanya pasrah. Saking takutnya, John Lie dan awak lainnya tak sadar bahwa kapal Belanda telah mengirim sandi morse meminta agar “The Outlaw” menyerah.

Dalam suasana yang mencekam itu, sesuatu yang ajaib terjadi, tiba-tiba cuaca jadi buruk. Kabut menyelimuti permukaan laut, disusul hujan lebat dan gelombang. Akibatnya, kapal perang Belanda tak sanggup mengejar “The Outlaw” dalam cuaca yang buruk itu.

Perjalanan menyeramkan itu dipantau oleh radio BBC London-Inggris. Penyiar menyebut “The Outlaw” dengan segala pengalamannya yang lolos dari penyergapan kapal perang Belanda dianggap sebagai hal yang di luar nalar.

Dalam wawancara dengan seorang wartawan, John Lie menggambarkan bahwa situasi pada saat itu mendorong setiap pejuang harus memiliki inisiatif melakukan apa saja demi menguntungkan negara.

Senjata yang diseludupkan oleh John Lie dan teman-temannya melalui kapal “The Outlaw”, adalah untuk para pejuang. Ia dan teman-temannya tidak dibayar, tetapi melakukannya karena semangat patriotisme.

Setelah pensiun dari ALRI pada tahun  1966, ia membaktikan hidupnya untuk agama dan orang-orang miskin hingga meninggal tahun 1988.

Atas jasa-jasanya, pada tanggal 10 November 2009, ia dianugerahi gelar pahlawan nasional oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyono (2004-2014). John Lie merupakan satu-satunya warga keturunan Tionghoa yang meraih pangkat Laksamana Muda dan dianugerahi gelar pahlawan nasional.

Adanya pahlawan nasional dari etnis Tionghoa sebagai bukti bahwa Tionghoa sama dengan etnis lainnya, yaitu sama-sama berjuang untuk kemerdekaan bangsa.  SolMont.

 

2017-07-21T03:41:41+00:00 July 21st, 2017|Mengenal Manado|