Mengenal Kampung Arab Manado

Kampung Arab Manado, adalah kampung sangat khusus dan unik. Keunikkannya terletak pada agama dan identitas kulturalnya. Kekhususannya, karena mereka pada jaman Belanda memiliki kepala kampung sendiri, yang disebut wijkmeester bergelar titular luitenant (bahasa Belanda), yang artinya letnan.

Kekhususan lainnya, meski mereka pada jaman Belanda masuk wilayah Manado, namun tidak tunduk pada Hukum Besar. Mereka diperintah langsung oleh residen Manado dan berada di bawah kontrolir.

Pada tahun 1919 ketika Manado berstatus kota Gemeente, kampung Arab diperintah oleh Burgermeester (Walikota).

Tahun berdirinya kampung Arab tidak diketahui dengan pasti. Namun diperkirakan pada akhir abad 17, mereka mulai mengembangkan satu wilayah pemukiman.

Kampung Islam Tuminting, adalah lokasi awal pemukiman mereka. Kemudian mereka pindah ke lokasi yang kini terkenal dengan nama kampung Arab. Alasan mereka pindah adalah untuk mendekati pusat perdagangan dan pelabuhan Manado, yang banyak dikunjungi orang, sehingga sangat menguntungkan untuk berdagang.

Pada saat pertama kali mereka menempati kampung Arab belum ada bangunan Masjid, yang ada saat itu hanyalah surau yang didirikan oleh orang Ternate. Bangunannya sangat sederhana. Menggunakan bambu dan tiang-tiangnya dari kayu.

Pada tahun 1804, mereka mendirikan tempat ibadah, yang diberi nama Masjid Al Mashyur. Al Mashyur adalah nama keluarga yang mewakafkan tanah untuk Masjid. Bangunan Masjid didominasi oleh gaya arsitek Timur Tengah.

Kampung Arab berjarak sekitar 1 km dari zero point. Berdampingan dengan kampung Cina. Disebut kampung Arab karena mayoritas penduduknya berasal dari jazirah Arab, yaitu dari Arab Saudi dan Hadramaut (sekarang Yaman). Pemerintah colonial Belanda menggolongkan mereka sebagai vreemde oosterling (orang timur asing).

Pada saat pemerintah kolonial Belanda berkuasa, mereka tak luput dari kebijakan politis. Mereka sengaja dikumpulkan oleh pemerintah Belanda dalam satu kompleks, itu merupakan cara untuk memudahkan pemerintah Belanda mengawasi orang asing.

Setelah Indonesia merdeka, kampung Arab diubah namanya menjadi Istiqlal (bahasa Arab), yang artinya kemerdekaan.

Namun, orang-orang tak terlalu familiar dengan nama Istiqlal, tapi ketika menyebut nama kampung Arab, pasti akan teringat bahwa kampung yang dimaksud berada antara jembatan Megawati dan Mahakam, dan bersebelahan dengan kampung Cina.

Belum ada literatur pasti yang memuat sejarah kampung Arab, tapi yang pasti mayoritas penduduknya adalah orang Arab. Mereka, adalah para pedagang yang datang secara berkelompok sekitar abad 17 dan 18.

Meski penduduk kampung Arab membawa identitas etnis dan memiliki silsilah garis keturunan Arab, namun bagi mereka, Manado adalah tanah air mereka. Mereka merasa memiliki dan turut bertanggung jawab terhadap kemajuan kota Manado.

Kampung Arab merupakan salah satu ikon religious kota Manado. Ramai dikunjungi wisatawan nusantara dan mancanegara, terutama menjelang hari raya Idul Fitri. SolMont.

2017-07-13T07:51:28+00:00 July 13th, 2017|Mengenal Manado|