Manado, Dari Kecil Jadi Besar dan Terkenal

Sebelum bertumbuh dan berkembang menjadi kota mandiri, Manado adalah bahagian  dari Minahasa. Wilayahnya relatif kecil. Sebelum tahun 1926, luasnya hanya 2 km persegi, lalu diperbesar menjadi 5 kali lipat (10,60 km persegi) berdasarkan besluit Gubernur Jenderal Hindia Belanda Nomor 5 tanggal 19 Oktober 1926. Luas wilayah yang relatif kecil ini bertahan sampai pendudukan Jepang dan masa revolusi, lalu diperbesar menjadi 23,748 km persegi, dan pada tahun 1988 diperbesar lagi menjadi 157,26 km persegi.

Luas kota Manado sebesar 157,26 km persegi (1,03 persen dari luas provinsi Sulawesi Utara) belum termasuk luas lahan reklamasi sebesar 83 ha yang difungsikan sebagai kawasan B on B, Boulevard on Business.

Wenang, adalah nama awalnya sebelum diganti menjadi Manado pada tahun1682. Dari Wenang yang luasnya hanya 2 km persegi berkembang menjadi 12 kampung, lalu dimekarkan menjadi 24 kampung, dan dimekarkan lagi pada tahun 1988 menjadi 68 (46 kelurahan, 22 desa), selanjutnya pada tahun 2000 dimekarkan lagi menjadi 87 kelurahan dan 504 lingkungan hingga kini.

Manado mulai dikenal tahun 1623. Di dalam berbagai dokumen Portugis, Spanyol dan Belanda, Manado lebih dikenal dibanding Wenang. Para pedagang nusantara dan mancanegara seperti Cina, Filipina dan Arab mulai mendatanginya.

Walaupun sudah dikenal sejak tahun 1623, namun secara resmi pemakaian kata Manado nanti digunakan setelah adanya besluit Gubernur Hindia Belanda tanggal 1 Juli 1919.

Dari waktu ke waktu, Manado terus bertumbuhkembang dari kota kecil menjadi besar. Keberadaan pelabuhannya, yang dilayari kapal Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM) atau Perusahaan Pelayaran Kerajaan mengalirkan pedagang nusantara dan mancanegara, dan mendorong pekerja dari luar  secara bergelombang tertarik mendatangi Manado.

Manado yang sebelumnya sepi dan sunyi mulai ramai. Berbagai sarana dan prasarana  dibangun. Di dekat pelabuhan dibangun loji dari kayu. Tapi karena semakin meningkatnya kebutuhan, loji dikembangkan menjadi benteng dan di sekitarnya dibangun lokasi pemukiman yang permanen.

Keberadaan benteng yang semula dari kayu kemudian diganti dengan beton. Untuk mendukung dan mempercepat pembangunan benteng, pemerintah kolonial Hindia Belanda mendatangkan orang Tionghoa sebagai tukang batu dan kayu. Juga didatangkan buruh  kasar asal Gorontalo dan Ternate.

Para pekerja benteng yang tidak kembali ke daerah lagi asalnya dan migrasi penduduk Minahasa dari pedalaman berkontribusi terhadap penambahan jumlah penduduk Manado.

Keberadaan pelabuhan dan benteng yang tidak hanya digunakan sebagai pertahanan, tetapi juga berfungsi sebagai pusat administrasi pemerintahan, dan perkantoran berperan penting menciptakan iklim bisnis dan meningkatkan arus penduduk masuk ke Manado.

Penduduk Manado-Minahasa pada tahun 1920 dan 1930 berada di bawah 30.000 jiwa. Setelah tahun 1930, yaitu pada masa pendudukan Jepang (1942-1945) dan masa revolusi fisik (1945-1950) mengakibatkan data yang rinci tentang penduduk Manado sulit diperoleh.

Selang tahun 1957-1960 penduduk Manado tidak terdata. Hal ini diakibatkan oleh pergolakkan Permesta tahun 1957 yang melanda wilayah Sulawesi Utara.

Selain itu, walaupun Manado pada tahun 1953 sudah mandiri dan secara administratif sudah terpisah dari Minahasa, namun karena masih dalam proses peralihan, data tentang Manado dan Minahasa masih disajikan bersama hingga tahun 1960.

Data penduduk kota Manado nanti terpisah dari Minahasa setelah sensus penduduk tahun 1961, 1971 dan 1980. Jumlahnya berada pada angka 120.000 sampai 220.000 jiwa.

Data penduduk kota Manado terakhir yang dikeluarkan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil kota Manado berjumlah 532.544 jiwa pada tahun 2015 dan 533.188 jiwa pada tahun 2016.

Dari tahun ke tahun, Manado terus berkembang dan peranannya makin bertambah besar, bukan hanya sebagai ibu kota keresidenan atau pusat pemerintahan, tetapi juga sebagai pusat perdagangan.

Terbukanya dunia usaha dengan berbagai alternatifnya ikut mendorong perkembangan lokasi pemukiman. Lokasi yang sebelumnya tak layak dihuni dan terlarang, karena berada di tebing, di pesisir pantai yang tergenang air pasang dan rawa yang berbahaya berubah menjadi lokasi pemukiman.

Pada masa pemerintah kolonial Belanda, pembangunan kota Manado terpola dan tertata dengan baik, misalnya adanya kompleks-kompleks seperti benteng, lokasi perdagangan, terminal, pemukiman berdasarkan etnis, dan lain-lain; tapi setelah itu, pola pemukiman menjadi terpencar dan tidak tertata dengan baik. Salah satu penyebabnya karena topografi kota Manado yang berbukit dan berbahaya, yang walaupun daerah tersebut terlarang, namun dimanfaatkan oleh penduduk untuk membangun pemukiman slum yang merusak wajah dan keindahan kota Manado.

Seiring dengan kemajuan kota, moda transportasi ikut mengalami perkembangan. Kendaraan angkutan utama seperti sepeda, roda (gerobak) yang ditarik oleh sapi atau kuda, bendi (delman atau sado) sekitar tahun 1910 mulai tergantikan oleh kendaraan bermotor, yang menghubungkan Manado dengan Tomohon, Tondano, Kumelembuai (kini Airmadidi), dan daerah lainnya.

Sejak tahun 1995, Manado makin berkembang besar, baik dari segi luas, pembangunan maupun jumlah penduduknya. Luasnya dari 157,26 km persegi mendapat tambahan 83 ha lahan reklamasi, yang di atasnya berdiri sejumlah bangunan seperti hotel, pasar swalayan, toko, rumah makan dan sejumlah fasilitas mewah lainnya.

Lahan reklamasi seluas 83 ha tersebut yang populer dengan sebutan B on B (Boulevard on Business) tidak hanya menjadi pusat perdagangan tersibuk, tapi juga menjadi salah satu eksotisme yang menarik untuk menyaksikan kekhasan sunset menuju peraduannya.

Sejak kehadiran Boulevard on Business (B on B), aktivitas masyarakat sebelum tahun 1995 yang terkonsentrasi di bendar atau pusat kota (eks pasar 45 dan sekitarnya) beralih ke kawasan yang ramai dan padat pengunjung ini. B on B merupakan pusat perkembangan kota Manado yang modern. Lokasinya yang strategis menjadi magnet bagi para pelaku bisnis.

Manado Kota Pariwisata Dunia, Manado Kota Ekowisata dan Manado Cerdas (Cendekia, Ekowisata, Religius, Daya saing, Aman dan Sehat sejahtera), adalah tiga visi berkonten pariwisata, yang membuat kota Manado makin besar, makin beda dan terkenal.

Visi berkonten pariwisata telah mempercepat pertumbuhan ekonomi, membuka lapangan kerja, meningkatkan perbaikan standar hidup masyarakat dan mengstimulasi sektor-sektor penting lainnya seperti pembangunan hotel, penginapan dan sarana transportasi.

Selama 15 tahun terakhir, ritme pembangunan kota Manado bergerak dengan cepat. Pusat perbelajaan, super market, hotel, penginapan, restoran dan jenis usaha lainnya dari tahun ke tahun terus bertambah. Manado makin besar dan muncul sebagai kekuatan ekonomi baru di kawasan Indonesia bagian timur.

Kekayaan panorama keindahan alam, atraksi seni dan budaya unik, makanan khas yang lesat dan enjoyable, semuanya merupakan produk ekowisata menjanjikan dan membuat popularitas Manado kian dikenal hingga mancanegara.

Di mata turis, keindahan kota Manado memiliki daya tarik tersendiri. Kenangan manis sewaktu berkunjung tersiar dan menimbulkan keingintahuan luar biasa dan rasa penasaran bagi turis yang belum berkunjung. Suguhan keindahan alam, kehidupan sosial, kearifan lokal, keramahan, keberagaman kuliner, semuanya menjadi ungkapan kekaguman bahwa Manado yang dulunya kecil telah menjadi besar dan terkenal. Solmont.

 

 

2017-07-11T01:51:54+00:00 July 11th, 2017|Mengenal Manado|