Mengenal Penduduk Manado Pada Masa Kolonial Belanda

Pemerintah kolonial Belanda saat menjajah Indonesia, termasuk kota Manado, membagi masyarakat ke dalam beberapa tingkatan atau kelas. Orang Belanda dan bangsa Eropa lainnya masuk dalam kategori kelas terhormat.

Urutan berikutnya adalah kelas istimewa, yakni Borgo. Kelas selanjutnya adalah penduduk yang termasuk dalam golongan timur asing (vreemde oosterlingen), yaitu orang Tionghoa, Arab dan India. Kelas paling bawah adalah penduduk lokal atau pribumi, yang mereka sebut Inlanders atau inlandsch, yang terdiri dari Manado dan penduduk pribumi lainnya.

Namun sejak tahun 1800-an, banyak orang Manado berada ditingkatan tertinggi, antara lain ada yang menjadi kepala dan guru yang dikuatkan dengan beslit gubernemen Belanda untuk mengangkat status mereka sederajat dengan orang Eropa.

Orang Belanda dan penduduk yang diistimewakan (Borgo) memiliki pemukiman khusus. Lokasinya tersebar di utara dan selatan benteng Nieuwe Amsterdam. Meski orang Borgo disiapkan lokasi pemukiman istimewa, namun ada juga di antara mereka bermukim di luar kampung istimewa, yang kepala distriknya adalah orang Minahasa.

Pada tahun 1848, wijk (kampung) berjumlah 8. Nama wijk (kampung) dicatat dalam bentuk leter A sampai H. Orang Belanda dan Borgo menghuni 6 kampung, yaitu leter A sampai F. Lokasi pemukiman orang Belanda terpusat di bendar Manado dekat benteng. Orang Borgo Islam (kini Kampung Islam) menempati leter H, sedangkan orang Tionghoa menempati wijk leter G atau yang kini dikenal dengan nama Kampung Cina.

Dua puluh satu tahun kemudian, yaitu pada tahun 1869, jumlah wijk berubah menjadi 7. Kampung Belanda dan Borgo Kristen menempati 5 wijk. Kampung Cina berubah nama menjadi wijk Leter F, dan Kampung Islam menjadi wijk Leter G. Namun, tak lama diubah lagi menjadi 8 wijk. SolMan***

2017-07-04T07:42:13+00:00 July 4th, 2017|Mengenal Manado|