Mengenal Orang Borgo Manado Tempo Dulu

Borgo berasal dari kata burger (bahasa Belanda), yang artinya sipil. Bagi masyarakat Manado, Borgo adalah sebutan bagi orang-orang keturunan asing (Belanda, Portugis, Spanyol, Perancis, dan bangsa Eropa lainnya), atau warga lokal yang diberi nama asing oleh pemerintah di zaman penjajahan, atau warga yang membantu kompeni.

Mereka dipersenjatai oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Walaupun dipersenjatai, tapi mereka bukan militer. Mereka diberi tugas oleh Belanda untuk menjaga daerah pantai dari serangan bajak laut, yang lainnya bekerja sebagai serdadu di Garnisun Schutterij Manado, yang di berdinas di Manado, Kema, Amurang dan Belang

Pada zaman penjajahan, orang Borgo merupakan penduduk yang diistimewakan. Keistimewaan yang diberikan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda adalah tidak membayar pajak dan tidak terkena aturan wajib kerja sukarela  atau kerja rodi.

Kerja rodi yang dimaksud adalah membangun jalan dan jembatan selama 190 hari dalam setahun, namun mereka sampai tahun 1878 dibebaskan dari aturan wajib kerja sukarela tersebut.

Menurut Adrianus Kojongian pada tahun 1911, keeksklusifan orang Borgo hilang, lalu status mereka disamakan dengan orang Minahasa umumnya (dikutipnya dari sebuah sumber berbahasa Belanda). Namun berbeda dengan Harsevein Manus Taulu (Taulu HM) dalam bukunya yang berjudul “Malesung-Minahasa Jilid II”, yang diterbitkan oleh Badan Budaya Yayasan Membangun, Manado 1971, menurutnya nanti pada tahun 1925, orang Borgo ditetapkan sama dengan penduduk asli Minahasa.

Data yang dikemukakan oleh Harsevein Manus Taulu lebih masuk akal, karena wajib militer orang Borgo nanti berakhir pada tahun 1919, kemudian mereka ditempatkan oleh pemerintah Hindia Belanda di pelabuhan-pelabuhan penting seperti Manado, Amurang, Tanahwangko, Likupang, Kema, dan Belang bersama dengan keluarga mereka.

Diperkirakan orang Borgo di Manado sudah ada sejak tahun 1500-an. Sindulang dan Kampung Islam, adalah dua kelurahan yang pernah menjadi lokasi pemukiman mereka. Borgo Kristen bermukim di Sindulang, sedangkan Borgo Islam bermukim di Kampung Islam.

Kampung tempat orang Borgo bermukim dikenal dengan nama wijk, sedangkan kepala kampungnya diberi gelar Wijkmeester. Mereka tidak bertanggung jawab kepada kepala distrik Manado, tetapi langsung di bawah kontrolir Manado yang dipegang oleh amtenar Belanda..

Menurut Dr. P. Bleeker, orang Borgo di Manado pada tahun 1854 berjumlah 1043 (482 Kristen dan 561 Islam). Empat puluh tahun kemudian, yaitu tahun 1894, menurut Fendy E.W. Parengkuan (1986), orang Borgo Kristen di Manado berjumlah 1786 orang, dan orang Borgo Islam berjumlah 796 orang dari penduduk kota Manado yang saat itu berjumlah 7407 orang.

Sejak tahun 1900, dalam berbagai sumber, orang Borgo tidak tercatat lagi dalam laporan kependudukan, baik yang beragama Kristen maupun Islam. Mungkin mereka telah disatukan dengan orang Minahasa sebagai penduduk asli. Hal ini perlu dibuktikan melalui riset.

Menurut Adrianus Kojongian (dikutipnya dari sumber berbahasa Belanda), bahwa sampai awal abad ke-20, terdapat 4 (empat) orang Minahasa yang digolongkan sebagai orang Borgo. Mereka menjadi Borgo karena perkawinan, di antara mereka ada yang beribu orang Belanda atau orang Eropa lainnya yang pernah menjadi  wijkmeester di Manado.

Empat orang Minahasa tersebut adalah Arnoldus Bernardus Kalengkongan, mantan  wijkmeester leter E pada tahun 1847 hingga 1869; Abraham Donatius Wakkary, mantan Groot Majoor dalam Perang Diponegoro dan mantan wijkmeester leter B, Willem Pelenkahu, mantan wijkmeester leter F, dan Ch.Jocom, kepala Kampung Borgo Kristen. SolMon***

2017-07-03T08:18:25+00:00 July 3rd, 2017|Mengenal Manado|