Mengenal Kecamatan Sario

Nama kecamatan Sario merupakan akronim atau kependekan dari kata salu dan rio (bahasa Tombulu). Salu artinya kuala (sungai). Rio artinya ribut. Jadi, arti Sario adalah kuala atau sungai yang ribut. Disebut demikian karena pada saat musim hujan, sungai Sario terdengar ribut oleh suara bebatuan yang hanyut dibawa banjir.

Sungai Sario mengalir dari kaki gunung Mahawu-Tomohon. Sebagian aliran airnya melewati desa Koka dan yang lainnya melewati desa Kali. Aliran yang terpisah tersebut kemudian menyatu kembali di kompleks perumahan Citraland, pasar Karombasan-Ranotana, Wanea, Sario dan bermuara di jalan Pierre Tendean-Boulevard pantai Manado.

Versi lainnya menyebut bahwa nama Sario diambil dari nama belakang seorang gadis yang bernama Sariow. Nama lengkapnya adalah Simban Sariow. Simban Sariow adalah tokoh dalam cerita rakyat Minahasa pada abad XIV. Suaminya bernama Sangian Lawanan, yang memiliki kebiasaan senang berlayar. Jessy Wenas di dalam bukunya yang berjudul Sejarah dan Kebudayaan Minahasa (2007: 3 ) mengatakan bahwa Sangian Lawanan kemungkinan berasal dari kepulauan Sangihe.

Ada empat kelurahan bernama Sario, yaitu Sario Utara, Sario Kotabaru, Sario Tumpaan dan Sario. Berdasarkan data BPS tahun 2015, kecamatan Sario memiliki luas wilayah 1,75 km persegi dengan jumlah penduduk 24519 jiwa.***

2017-05-19T08:54:53+00:00 May 19th, 2017|Mengenal Manado, Uncategorized|